Pintar. Apa Itu Pintar?

 

Oi gan, gimane kabar? Sorry nih kemaren sempet ga ngepost hampir 2 minggu, maklum kan anak semester akhir, dikejar deadline~

Hari ini gue mau sedikit ngebahas hal yang nyerempet-nyerempet ke pendidikan. Kenapa? Karena gue pribadi adalah salah satu anak muda yang cukup concern dengan pelaksanaan sistem pendidikan di negara kita tercinta ini. Dan kebetulan juga beberapa hari lalu gue nemu suatu tulisan yang cukup merangkum kegelisahan gue.

Conquer The World

Tulisan di atas gue dapet dari salah satu jejaring sosial di suatu sore saat gue lagi nunggu bus transjakarta. Setelah gue baca dengan sesama tulisan di atas gue jadi keinget sama sistem pendidikan kita, yang menyamaratakan semuanya.

Apa maksudnya menyamaratakan?

Ada dua hal yang gue maksud dengan menyamaratakan.

Pertama, sistem pendidikan dari dasar hingga menengah di negara kita memaksakan kita untuk menguasai seluruh bidang dan mata pelajaran yang ada, semuanya, tanpa terkecuali. Dari zaman SD sampe SMA, kita diharuskan dapet nilai yang bagus di semua pelajaran, khususnya di beberapa mata pelajaran utama kayak matematika, ipa, bahasa inggris yang biasanya diujikan dalam ujian nasional. Kalo kita gabisa dapet nilai bagus di mata pelajaran penting kayak yang gue sebutin di atas pasti kita langsung dicap bodoh, dicap pemalas, dicap kurang pintar, dan bahkan bisa ga lulus atau ga naik kelas. Semua siswa diperlakukan demikian, sama rata tanpa kecuali.

Kedua, sistem pendidikan memaksakan kita mengejar hasil, bukan proses. Kita sekolah SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, tapi dari segitu lamanya masa sekolah kita, kelulusan kita cuma ditentuin sama Ujian Nasional yang masing-masing berlangsung sekitar 3-5 hari. Terus buat apa proses yang udah kita lakuin selama bertahun-tahun sebelumnya itu? Ngapain kita harus berangkat pagi pulang sore lanjut bimbel ampe malem, belom lagi ada tugas-tugas individu dan kelompok kalo penentu kelulusan itu mutlak cuma dari UN??! Sistem ini ga akan pernah efektif secara jangka panjang, karena justru akan lebih sering menciptakan suasana yang tidak jujur dalam praktiknya. Gimana dengan siswa-siswa yang emang minatnya bukan di pelajaran-pelajaran utama yang diujikan itu? Pasti mereka bakal tertekan banget, butuh effort yang lebih untuk bisa lulus dibanding teman-temannya yang memang bisa dibilang lebih “pintar” di mata pelajaran tersebut. Selain itu tidak sedikit juga siswa-siswa yang akhirnya menyerah dan mencari kunci jawaban. Gue sebagai anak yang pernah ngalamin sistem pendidikan ini, udah jadi rahasia umum kalo tiap UN pasti bakal ada kunci jawaban yang kesebar, entah darimana sumbernya, dan emang beberapa ada yang bener.

Lebih parahnya lagi sistem ini diterapkan secara nasional, dari sabang sampai merauke, dengan standar yang sama, tanpa pengecualian sama sekali. Perkembangan infrastruktur di Indonesia masih jauh dari kata merata. Buat kita yang tinggal di kota-kota besar kayak Jakarta, Bandung, Surabaya, dll mungkin ga akan ngerasa kekurangan karena semua yang kita butuhin udah tersedia dan lengkap, sebagai contoh, sekolah. Buat berangkat ke sekolah kita tinggal naik angkutan umum, di sekolah pun fasilitas standar sudah terpenuhi, intinya semua mudah didapatkan. Tapi bandingkan dengan sekolah-sekolah yang ada di tempat yang masih tertinggal perkembangan infrastrukturnya, masih banyak yang harus berjalan kaki ke sekolah belasan kilometer ngelewatin hutan, sungai  dan rintangan lainnya. Belum lagi fasilitas sekolah yang tidak layak. Dengan ketimpangan seperti itu, apa layak menstandarkan Ujian Nasional sebagai tolak ukur kelulusan secara nasional?Dari artikel yang gue cantumin di atas dan pendapat gue yang nyerempet-nyerempet ke sistem pendidikan kita, gue pengen menyampaikan kalo semua siswa, semua manusia itu berbeda, memiliki minat, ketertarikan dan kecerdasan masing-masing. Jangan langsung ngecap orang yang gabisa matematika sebagai orang yang bodoh, bisa jadi dia berbakat di bidang lainnya kayak kesenian atau olahraga. Kalo aja orangtuanya Michael Jackson dulu nyuruh doi buat sekolah dan ngambil ilmu hukum, apa dia bisa jadi pengacara setenar ketika dia jadi King of Pop? Atau ketika Jackie Chan dulu dipaksa orangtuanya buat jadi ilmuwan apa dia bisa jadi ilmuwan seterkenal dia sekarang sebagai aktor laga?Mungkin itu aja unek-unek gue kali ini. Thanks for visiting!See yaaaa!

Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid. – Albert Einstein

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s